http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/issue/feed Jurnal Psikohumanika 2019-09-17T01:28:23+00:00 Sujoko, S.Psi, S.Pd.I, M.Si joko_psi05@yahoo.com Open Journal Systems <p style="text-align: justify;"><strong>Jurnal Psikohumanika ( Jurnal Ilmiah Psikologi )</strong>&nbsp;merupakan media publikasi ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta. Jurnal ini diterbitkan dan diperuntukkan bagi sivitas akademika Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta, serta ahli-ahli lain yang berminat dibidang psikologi. Artikel yang dimuat merupakan hasil penelitian lapangan atau di laboratorium, kajian ilmiah dan kajian buku yang belum pernah dipublikasikan di media lain.</p> http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/article/view/547 PENYUSUNAN SKALA SIKAP TERHADAP PELAJARAN PRAKTIS 2019-09-17T01:27:35+00:00 Jelpa Periantalo Jelp.8487@unja.ac.id Fadzlul Fadzlul Aloels_psy@yahoo.com Rahmadhani Islamiah rahmadhanimia@gmail.com <p><em>Penelitian bertujuan untuk menyusun Skala Sikap terhadap pelajaran Praktis yang memenuhui proprertis psikometris yang baik: valid, reliabel, praktis, terstandardisasi dan bermanfaat. Skala terdiri dari pelajaran Seni Budaya,&nbsp; Muatan&nbsp; Lokal, Olahraga, dan Teknologi Informasi dan Komputer. Sikap meggunakan teori Charles Osgood, terdiri dari komponen: potensi, aktivitas, evaluasi. Skala menggunakan teknik penskalaan semantif differensial dengan kontinum 1-7. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan total subjek N=694 terdiri dari siswa SMA dan mahasiswa. Uji kecocokan model menghasilkan KMO &gt; 0,900 dan BTS dengan LOS 0,000 sehingga data layak untuk analisis faktor.&nbsp; Hasil analisis faktor konfirmatori dengan metode varimaks mengkonfirmasi ketiga faktor pembentuk alat ukur tersebut. Aitem final skala menggunakan aitem dengan muatan faktor &gt; 0,700 yang terdiri dari tiga aitem setiap sub skala. Skala dibuat dalam dua bentuk; utama dan paralel; dimana ujian Mean (M), varians (S²) dan korelasi (r</em><em>xy</em><em>) menghasilkan koefisien yang setara. Uji reliabilitas tes paralel menghasilkan koefisien ekivalensi </em>рxx’<em>’ &gt;0,75. Skala menggunakan norma kriteria dengan lima klasifikasi. Skala dapat digunakan untuk pembelajaran, evaluasi, uji kriteria alat ukur lain, peminatan SMA dan penjurusan kuliah. Skala tersebut memiliki validitas faktorial yang sangat memuaskan, reliabilitas yang baik, jumlah aitem yang sedikit, norma yang jelas, serta dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Penelitian berikutnya melakukan uji validitas dengan berbagai kriteria untuk mendukung validitas konstrak</em><em>.</em></p> 2019-06-28T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/article/view/548 SELF ACCEPTANCE PADA REMAJA CEREBRAL PALSY 2019-09-17T01:27:50+00:00 Veni Fatmawati venifatma10@gmail.com Sujoko Sujoko agussujoko85@gmail.com <p><em>Cerebral palsy</em> merupakan salah satu bentuk ketidaknormalan yang cukup banyak terjadi dan dialami oleh para remaja. Ketidaknormalan secara fisik pada remaja ini secara langsung ataupun tidak akan mempengaruhi rasa penerimaan diri <em>(self acceptance)</em> pada mereka. <strong>T</strong><strong>ujuan </strong>dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran penerimaan diri <em>(self acceptance) </em>pada remaja yang mengalami <em>cerebral palsy</em>. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara langsung, yaitu peneliti melakukan wawancara secara langsung remaja yang mengalami <em>cerebral palsy.</em>Berdasarkan&nbsp; pada hasil penelitian dapat diketahui bahwa: 1) ketidaksempurnaan fisik akan mempengaruhi penerimaan diri pada remaja penderita <em>cerebral palsy. </em>2) dukungan sosial dan kemampuan berpikir positif dapat membantu remaja <em>cerebral palsy </em>untuk dapat menerima kondisi fisiknya.</p> 2019-06-28T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/article/view/549 HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN PRODUKSI BAGIAN CUTTING PT. ARGO MANUNGGAL TRIASTA 2019-09-17T01:27:59+00:00 Anisa Putri Sari anissaputrisari@gmail.com Christiana Hari Soetjiningsih anissaputrisari@gmail.com <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan resiliensi dengan <em>work engagement </em>pada karyawan produksi bagian <em>cutting</em> di PT. Argo Manunggal Triasta Salatiga. Hipotesis yang diajukan adalah ada korelasi positif signifikan antara resiliensi dengan <em>work engagement </em>pada karyawan produksi bagian <em>cutting</em>. Subjek dalam penelitian ini adalah karyawan produksi bagian <em>cutting</em> di PT. Argo Manunggal Triasta Salatiga sebanyak 81 karyawan. Pengumpulan data di lakukan dengan skala resiliensi dan skala <em>work engagement</em>. Analisis data menggunakan metode korelasi <em>product moment. </em>Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif signifikan antara resiliensi dengan <em>work engagement </em>dengan nilai r = 0,732 dan signifikansi = 0,000 (p &lt; 0,05). Artinya semakin tinggi resiliensi maka semakin tinggi <em>work engagement </em>yang di miliki pada karyawan produksi bagian <em>cutting </em>di PT. Argo Manunggal Triasta Salatiga.</p> 2019-06-28T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/article/view/550 PENGGUNAAN SHORT FORM TES WAIS PADA KLIEN PSIKIATRIK 2019-09-17T01:28:09+00:00 A Said Hasan Basri a.basri@uin-suka.ac.id <p><em>WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) sebagai skala kecerdasan sejak kemunculannya telah banyak menarik perhatian para ahli psikologi. Kemampuannya dalam mengestimasi kemampuan kognitif individu belum ada bandingannya. Apalagi dalam pengembangan yang lebih luas, ternyata kemampuannya tidak terbatas pada individu yang normal semata, tetapi juga menyangkut individu yang mengalami gangguan psikiatrik. Bahkan kemampuannya tidak hanya mengukur tingkat kecerdasan, tetapi juga mampu menjadi alat diagnosis bagi asesmen klinis.Tujuannya adalah untuk mengetahui tentang model short form pada tes WAIS untuk klien psikiatri, tingkat validitas dan reliabilitasnya, serta&nbsp; implementasi dari sort form tes WAIS ini pada klien psikiatrik. Metode ADS (Analisis Data Sekunder) digunakan sebagai metode penelitian. Hasilnya, model short form yang digunakan untuk klien psikiatrik ada dua, yaitu model pemilihan aitem (butir-butir pertanyaan) dan model pemilihan sub-tes. Adapun untuk Validitas dan reliabilitas short form tes WAIS ternyata memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi (hamper sama skornya dengan tes WAIS yang full). Sedangkan untuk implementasi sort form tes WAIS untuk klien psikiatrik. Ternyata tes WAIS juga memiliki kemampuan dalam mengukur kecerdasan atau tingkat IQ individu yang tergolong dalam gangguan psikiatrik serta mampu mendiagnosis gangguan yang diderita oleh klien psikiatrik.</em></p> 2019-06-28T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## http://ejurnal.setiabudi.ac.id/ojs/index.php/psikohumanika/article/view/551 POSITIVE PSYCHOTHERAPY UNTUK MENGURANGI GEJALA DEPRESI PADA PASIEN GANGGUAN SKIZOFRENIA 2019-09-17T01:28:23+00:00 Walda Isna Nisa waldha092@yahoo.com <p>Subjek seorang laki-laki berusia 22 tahun yang mengalami gangguan skizofrenia dengan gejala depresi. Studi kasus ini bertujuan mengurangi gejala-gejala depresi pada gangguan skizofren yang dialami oleh subjek. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara berupa, autoanamnesa dan alloanamnesa, observasi dan tes psikologi (Tes Grafis, Wartegg, Wais, WWQ, SSCT dan skala BDI-II). Intervensi yang dilakukan menggunakan <em>positive psychotherapy</em> yang terdiri dari 9 sesi dan sesuai dengan teori <em>Learned Helpessness,</em> dimana kepasifan dan perasaan subjek yang merasa tidak mampu bertindak dan mengendalikan hidupnya terbentuk melalui pengalaman yang tidak menyenangkan dan trauma yang tidak berhasil dikendalikan sehingga menimbulkan rasa tidak berdaya yang kemudian memicu depresi. Intervensi tersebut bertujuan untuk menemukan kekuatan-kekuatan positif yang subjek miliki, sehingga subjek mampu memaknai kehidupannya secara positif dan mampu mengenal dirinya untuk mengembangkan potensinya. Setelah dilakukan intervensi subjek sudah mulai mampu melakukan aktivitas sehari-hari, berinteraksi terlibat dalam&nbsp; kegiatan sosial. Hal ini didukung oleh motivasi subjek untuk sembuh namun subjek kurang percaya diri menjalani kehidupannya. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat positif sehingga dapat meningkatkan motivasi subjek dalam mengurangi gejala depresi yang dialami.</p> 2019-06-28T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##